TUGAS METODE RISET

REVIEW JURNAL 1

TEMA : PERKEMBANGAN KOPRASI DAN UKM DI INDONESIA

JUDUL :

STUDI PERAN SERTA WANITA DALAM PENGEMBANGAN

USAHA KECIL MENENGAH DAN KOPERASI

SUMBER :

AHMAD H GOFAR

JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I – 2006

 

STUDI PERAN SERTA WANITA DALAM PENGEMBANGAN

USAHA KECIL MENENGAH DAN KOPERASI

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ketika Indonesia dilanda kritis, pemerintah baru tersadar bahwa usaha besar

yang dibangga-banggakan justru sebagian besar bangkrut/gulung tikar dan

memberikan beban berat bagi negara dan bangsa, sebaliknya usaha kecil

dan koperasi yang selama ini dipandang sebelah mata mampu bertahan,

bahkan berkembang. Ternyata, meskipun selama ini praktek layanan publik

dirasakan usaha kecil tidak fair, namun mereka mampu menunjukan

kekenyalannya, usaha kecil tetap mendayung sampannya di antara karangkarang

lautan yang berombak besar dan berubah-ubah karena tiupan angin

kencang. Namun demikian, walau usaha kecil mempunyai daya juang luar

biasa, untuk bertahan hidup dan berkembang perlu diberikan lingkungan

berusaha dan dukungan-dukungan lain untuk meningkatkan daya saing dan

daya tumbuhnya. Untuk itu isu pembinaan dan pengembangan usaha kecil

(termasuk mikro), menengah semakin digalakkan. Identifikasi kebutuhan dan

masalah usaha kecil dan koperasi perlu terus dilakukan dalam upaya

meningkatkan daya tumbuh dan daya saingnya.

Hampir setiap hari, semua media melaporkan kondisi krisis ekonomi yang

tak kunjung membaik. Tingkat kesehatan perbankan, dan upaya pemulihan

sektor riil seolah tak ada hasilmya, PHK dan pengangguran bertambah. Karena

krisis suami sebagai kepala rumah tangga menjadi pegangguran tak kentara.

Kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan tak mungkin dihentikan,

memaksa para istri yang semula hanya sebagai ibu rumah tangga mulai

berperan di berbagai bidang usaha.

Wanita potensial untuk melakukan berbagai kegiatan produktif yang

menghasilkan dan dapat membantu ekonomi keluarga, dan lebih luas lagi

ekonomi nasional, apalagi potensi tersebut menyebar di berbagai bidang

JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I – 2006

1.2. Perumusan Masalah

Wanita memiliki berbagai kelebihan seperti keuletan, etos kerja yang tinggi,

juga memiliki kelemahan-kelemahan yang menghambat peran serta dan

partisipasinya dalam perekonomian Indonesia. Untuk itu perlu dilakukan

penelitian atau studi secara mendalam guna memperoleh gambaran secara

persis kemampuan dan peran serta wanita dalam kegiatan pengembangan

usaha, yaitu : 1) sampai seberapa jauh kompetensi dan peran wanita dalam

berbagai kegiatan atau bidang usaha, 2) kenapa mereka berhasil di suatu

jenis usaha tertentu dan kenapa mereka selalu gagal dalam bidang usaha

lainnya, 3) sampai sejauh mana wanita memiliki kelebihan dan kelemahan

dalam melakukan pengembangan usaha, serta 4) bagaimana kemungkinan

pengembangan kemampuan dan peran serta mereka dalam pengembangan

usaha kecil, menengah dan koperasi.

1.3. Tujuan dan Manfaat

Tujuan yang ingin dicapai pada studi ini adalah :

1) Mengnalisis kemampuan dan peranserta wanita dalam mengembangkan

UKMK

2) Mengidentifikasi factor pendorong dan penghambat peranserta wanita

dalam pengembangan UKMK

3) Memperoleh alternative peningkatan kemampuan dan peranserta wanita

dalam pengembangan UKMK

II. KERANGKA PEMIKIRAN

GBHN 1999 antara lain mengamanatkan perlunya meningkatkan kedudukan dan

peranan perempuan dalam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui

kebijakan nasional untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender dalam

berbagai bidang pembangunan baik di pusat maupun di daerah. Sejalan dengan

amanat GBHN di atas perlu dilakukan peningkatan peran wanita dalam

pengembangan UKMK khususnya dan perekonomian Indonesia pada umumnya.

Untuk itu perlu dilakukan kajian peran serta dan kemampuan wanita dalam

JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I – 2006

139

pengembangan usaha kecil, menengah, dan koperasi. Untuk mengetahui peran

serta dan kemampuan wanita dalam pengembangan UKMK dapat dibedakan

menjadi : 1) wanita sebagai pelaku UKMK, 2) wanita sebagai pengelola UKMK,

dan 3) wanita sebagai pembina, pendamping, dan motivator, yang mana dalam

peran tersebut diperlukan pengetahuan, kemampuan, dan kompetensi

kewirausahaan.

Istilah wiraswasta sebelumnya lebih sering dipakai darpada wirausaha sebagai

padanan kata intrepreneur , berasal dari wira berarti utama, gagah, luhur, berani,

teladan, atau pejuang , dan swa berarti sendiri dan ta berarti berdiri, sehingga

swasta berarti berdiri diatas kaki sendiri atau berdiri atas kemampuan sendiri.

Dengan demikian wiraswasta/wirausaha berarti pejuang yang gagah, luhur, berani

dan paantas menjadi teladan dalam bidang usaha. Dengan kata lain wirausaha

adalah orang-orang yang memiliki sifat/jiwa kewirausahaan/kewiraswastaan,

yaitu berani mengambil resiko, keutamaan, kreativitas, keteladanan dalam

menangani usaha dengan berpijak pada kemauan dan kemampuan sendiri.

Keterlibatan wanita Indonesia dalam kegiatan ekonomi sebagai wirausaha telah

ada sejak zaman ke zaman, sejak dulu wanita telah terjun dalam dunia

perdagangan, misalnya wanita-wanita di Solo telah membantu ekonomi keluarga,

bahkan sebagai tulang punggung ekonomi keluarga dari usaha batik yang mereka

kelola. Demikian halnya di Palembang, Padang, Lampung, dan Ujung Pandang,

wanita-wanita sukses mengelola industri rumah tangga berupa kain songket.

Lyle M. Spencer dan Signe Spencer dalam bukunya .Competence at work : Models

for Superior Performance 1993. disebutkan : Kompetensi dapat didefinisikan

sebagai karakter mendasar dari seseorang yang menyebabkan seseorang

sanggup menunjukkan kinerja yang efektif atau superior di dalam suatu pekerjaan

atau karakter yang memberikan kontribusi terhadap kinerja menonjol dalam suatu

pekerjaan. Berarti kompetensi merupakan factor-faktor mendasar yang dimiliki

seorang Best/ Superior Performance (berprestasi secara menonjol) yang

membuatnya berbeda dengan Average Performance (berprestasi secara rata-rata

atau biasa-biasa saja). Kompetensi mempunyai cakupan yang jauh lebih

komprehensif yang terdiri dari keterampilan, motif, sifat, citra diri, peran social,

pengetahuan.

III. METODA PENELITIAN

3.1. Lokasi

Studi ini dilaksanakan di lima propinsi yaitu : Sumatera Barat, Jawa Barat,

Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Barat.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Kinerja Kelembagaan dan Usaha Koperasi Sampel

Dari 10 koperasi sampel di 5 propinsi lokasi studi, hampir seluruhnya Koperasi

Wanita (9 koperasi), dan hanya satu Koperasi jenis lainnya yaitu KSU (tabel

1). Kegiatan usaha pokok koperasi sampel adalah simpan pinjam, sedang

kegiatan usaha lain yang ditangani antara lain KCK, toko/ waserda, kantin/

catering, wartel/ kiospon, kredit barang dan konveksi. Pengurus Koperasi

sample berjumlah 3 sampai 6 orang , 5 Koperasi 5 Koperasi (50%) telah

memiliki manager dengan pendidikan SLTA (3 kop: K1, K2 Jabar dan K1 Sulsel),

dan S1 (2 Kopwan Jatim). Dari tenaga kerja (TK) yang dimiliki, 4 koperasi

contoh termasuk kecii hanya menggunakan tenaga kerja 1 sampai 3 orang,

2 koperasi agak besar yaitu menggunakan TK 6 an 9 orang dan 2 koperasi

termasuk besar yaitu Kopwan Jatim dengan tenaga kerja 66 orang ( K1) dan

94 orang (K2). Curahan waktu pengurus dalam mengelola Koperasi ada yang

JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I – 2006

142

secara sambilan : 3 sampai 4 jam per hari ( 3 koperasi ), namun kebanyakan

full time : 6 – 8 jam per hari (K1,K2 Kalbar dan K1 Sulsel), bahkan pengurus

Kopwan Jatim 12 jam dan 15 jam per hari.

Dilihat dari jumlah anggota, 2 Koperasi contoh dapat dikategorikan koperasi

kecil, dengan jumlah anggota 60 dan 66 orang, kategori koperasi sedang 2

koperasi dengan anggota 129, dan 136 orang , 2 koperasi agak besar dengan

anggota 218 dan 342 orang,1 koperasi termasuk besar dengan anggota 518

orang, dan 3 koperasi termasuk sangat besar dengan anggota 1121 orang (

K1 Sulsel) , 6349 orang ( K1 Jatim ) dan 9177 orang ( K2 Jatim). Sedang dari

perkembangan anggotanya , perkembangan anggota paling rendah K2 Jabar

yaitu menurun 37,5 % dan perkembangan paling tinggi adalah K2 Sumbar

34,69 % dan K1 Jatim 35,67 %.

4.2 Keberhasilan dan Kegagalan Wanita Sebagai Pelaku Usaha

Keberhasilan wanita ditunjang dari kelebihan-kelebihan wanita yang

merupakan faktor dominan terhadap keberhasilannya sebagai pelaku usaha

antara lain telaten, jujur sehingga lebih dipercaya, ulet, sabar, teliti, cermat,

serius, tekun, berani mengambil resiko, tangguh, tidak mudah menyerah,

memiliki jiwa bisnis atau wira usaha, kemauan keras, semangat, dedikasi

dan loyalitas tinggi, terbuka, bekerja dengan ikhlas, selalu menjaga nama

baik, tidak egois, disiplin dalam administrasi maupun pengelolaan keuangan,

yang mana kelebihan-kelebihan tersebut harus selalu dijaga dan

dikembangkan.

Sebaliknya wanita memiliki pula kelemahan-kelemahan yang dapat menjadi

penyebab kegagalannya sebagai pelaku bisnis antara lain : memanfaatkan

kesempatan untuk kepentingan pribadi, tidak berani mengambil resiko, kurang

percaya diri, atau terlalu percaya diri, terlalu berambisi sehingga menangani

usaha diluar kemampuannya, wawasan sempit sehingga kurang informasi,

tidak bisa membagi waktu atas peran gandanya, sibuk dengan urusan keluarga

sehingga curahan waktu untuk kegiatan usahanya minimal, kurang sabar atau

emosi tinggi, menetapkan keputusan dengan tergesa-gesa, masih bergantung

atau didominasi suami, consumtive, tidak terbuka, tidak bersungguh-sungguh,

yang mana kelemahan-kelemahan tersebut hendaknya diminimalisir

4.3 Permasalahan Yang Dihadapi dan Kiat Yang Dilakukan Koperasi atau

UKM Dalam Pengembangan Usahanya

Permasalahan-permasalahan yang dihadapi UKM maupun koperasi demikian

pula UKMK wanita dapat mempengaruhi kinerjanya, meskipun hal-hal tersebut

merupakan permasalahan klasik perlu dicarikan pemecahannya.

Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain kurang modal, lemahnya

SDM, kurang sarana/ prasarana, sulitnya akses ke perbankan, kurang

menguasai pasar, kurang menguasai penggunaan teknologi, yang meskipun

pelaku usaha wanita mempunyai kompetensi lebih, perlu juga dicarikan

jalan keluarnya secara lintas sektoral atau terpadu.

4.4 Alasan Mengapa Wanita Berkiprah Di Koperasi atau UKM

Pertanyaan apa alasan atau motivasi wanita melakukan usaha, yaitu untuk

menentukan apa yang ingin dicapai, tujuan apa yang hendak dicapai, serta

produk apa yang akan dihasilkan. Dari 32 responden wanita pelaku usaha,

ternyata 31 orang (96,88 %)menyatakan ingin mengurangi pengangguran atau

menciptakan lapangan usaha, kemudian ingin meringankan beban keluarga

10 orang (31,35%), ingin mengubah nasib 8 orang (25 %), ingin menjadi diri

sendiri 5 orang (15,12%), lain-lain yaitu ingin mengembangkan orang lain,

agar berguna bagi orang lain, meningkatkan kesejahteraan anggota koperasi

sebanyak 3 orang (31,35 %). serta yang menjawab ingin kaya hanya 1 orang.

Banyaknya motivasi wanita melakukan usaha karena ingin mengurangi

pengangguran atau menciptakan lapangan usaha, menunjukkan adanya

JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I – 2006

146

kesadaran dari wanita atas kondisi pengangguran yang semakin meningkat,

adanya kesadaran dari wanita untuk menciptakan pekerjaan bukan mencari

pekerjaan.

4.5 Pemanfaatan Teknologi Dan Pemikiran Diversifikasi Usaha

Teknologi sangat bermanfaat dalam rangka pengembangan usaha, baik dalam

rangka peningkatan kualitas maupun kuantitas karena dengan teknologi

pekerjaan berjalan secara otomatis akan mempersingkat waktu, mungkin bisa

menekan biaya, dan meningkatkan kualitas produk. Atas pertanyaan

pemanfaatan teknologi, dari 32 responden ternyata 24 orang ( 75 %)

menggunakan teknologi dan selebihnya 8 orang ( 25 % ) tidak memanfaatkan

teknologi

Teknologi yang telah dimanfaatkan responden antara lain computer untuk usaha

simpan pinjam, wartel, mesin jahit, microwave, sarana angkutan, alat penangkap

ikan dengan tenaga surya, mesin photo copy, dan sebagainya. Sedang yang

belum memanfaatkan teknologi karena memang kegiatan usahanya belum

memerlukan teknologi modern, namun ada juga yang sebetulnya membutuhkan

belum bisa memanfaatkan karena kendala keuangan sehingga teknologi

tersebut belum terjangkau.

Sejalan dengan optimisme pelaku usaha dan kepercayaan atas

kemampuannya, ternyata dari 32 responden 23 orang (71,85%)menyatakan

selalu memikirkan tentang diversifikasi usaha, 7 orang (21,88%) menyatakan

kadang-kadang, dan hanya 2 orang (6,25%) tidak pernah memikirkan tentang

diversifikasi usaha. Diversifikasi usaha yang akan dilakukan pelaku usaha

antara lain K1 Sulsel ingin membantu pemasaran produk kerajinan kelompokkelompok

prouktif yang dibinanya, dan UK ingin memanfaatkan bahan baku

yang ada di wilayahnya, membuka unit-unit usaha baru tentu saja disesuaikan

dengan ketrampilan dan kemampuan yang dimilikinya. Pemikiran terhadap

diversifikasi usaha mungkin juga disebabkan karena usaha yang digeluti sudah

jenuh.

4.6 Hubungan Kerja Antara Pimpinan/ Pelaku Usaha Dengan Bawahan/

Sejawat dan Mitra Usaha

Hubungan kerja pimpinan/ pelaku usaha dengan anak buah/ staf/ manajer

atau dengan sejawat seperti dalam koperasi dengan Badan Pengawas hampir

seluruhnya: 28 orang (87,5%) menyatakan tidak ada kesulitan, yang

menyatakan pernah ada kesulitan 2 orang (6,25 %) dan kadang-kadang 2

orang (6,25%). Tidak adanya kesulitan dalam hubungan kerja dengan bawahan

adalah wajar karena sampel dalam penelitian ini koperasinya juga tidak terlalu

besar, paling banyak menggunakan tenaga kerja 66 dan 94 orang yaitu K1

dan K2 di Jawa Timur sedang usaha kecil yang dijadikan sampel juga usaha

rumah tangga yang menyerap tenaga kerja 4-10 orang dan paling banyak 15

orang

JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I – 2006

147

Dalam hal hubungan dengan mitra usaha, dalam penelitian ini ternyata dari

32 responden yang menyatakan tidak ada kendala 19 orang (59,38 %), sedang

yang ada kendala 13 orang (40,62%). Kendala hubungan dengan mitra usaha

kebanyakan yang banyak diperlukan adalah kemitraan dengan BUMN atau

BUMS belum jalan, pembayaran tidak tepat waktu, kesulitan dalam penagihan

cicilan pada anggota, dan lain sebagainya.

4.7 Kebutuhan Peningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan

Dalam hal peningkatan pengetahuan, materi yang paling banyak diminati pelaku

usaha wanita adalah pemasaran dan bisnis 20 orang ( 62,5 %), perilaku

konsumen atau pelanggan 17 orang ( 53,12 %), lingkungan strategis 15

responden, kemudian trend baru, hukum, dan perundang-undangan masingmasing

11 orang (46,88%), dan hanya satu orang (3,12%) yang tertarik tentang

laporan keuangan dan akuntansi.

Dalam hal peningkatan ketrampilan, yang banyak dibutuhkan oleh pelaku

usaha wanita adalah mengenai peningkatan ketrampilan manajerial: 20 orang

(62,5%), memasarkan produk :17 orang ( 53,12 %), penggunaan teknologi

dan sumber daya masing-masing: 16 orang (50 %), kemudian melakukan

inovasi sesuai dengan kegiatan usahanya 15 orang (46,88%), dan

memproduksi barang dan jasa : 12 orang (37,5 %).

4.8 Persepsi Terhadap Citra Diri Dan Kompetensi Pelaku Usaha

Dari 32 responden pimpinan atau pelaku usaha kecil dan pengurus koperasi

wanita yang dijadikan sampel dalam penelitian ini, ternyata 23 orang (71,88%)

kepemimpinannya bersifat partisipatif yaitu dalam mengambil keputusan

meminta pendapat, masukan, dan saran dari staf atau anak buah dan 9 orang

(28,12%) kepemimpinannya bersifat semi partisipatif yaitu dalam pengambilan

keputusan mendengarkan pendapat, masukan, dan saran dari staf atau anak

buah meskipun keputusan tetap ditangani pimpinan sendiri.

Penelitian terhadap citra diri pimpinan pelaku UKM dan pengurus koperasi

yang terdiri dari kejujuran, tanggung jawab, keterbukaan, kepedulian, respek,

dan disiplin, dari 32 responden yang dinilai, ternyata dalam hal kejujuran 22

orang (68,75%) dinilai baik, 2 orang (6,25%) dinilai sedang, selebihnya: 8

orang (25 %) dinilai kurang. Dalam hal tanggung jawab 28 orang (87,5%)

dinilai baik, 4 orang (22,5%) dinilai sedang, dari segi keterbukaan 24 orang

(75 %) dinilai baik, 7 orang (21,88%) dinilai sedang, dan 1 orang (3,12%)

dinilai kurang. Dalam hal kepedulian 23 orang (71,88%) dinilai baik, 9 orang

(39,13%) dinilai sedang, dalam hal respek 18 orang (25%) dinilai baik dan 14

orang (43,75%) dinilai sedang, dan dalam hal disiplin 22 orang (68,75%) dinilai

baik, 10 orang (31,25%) dinilai sedang. Dengan demikian hampir semua

unsur citra diri pelaku usaha dinilai baik dan sedang.

JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I – 2006

148

Dari kompetensinya, seluruhnya responen memiliki sifat ulet, yang memiliki

sifat berani mengambil resiko 26 orang (81,25%), yang kreatif 23 orang

(71,88%), yang proaktif menghadapi perubahan 21 orang (65,62%), yang

memiliki jiwa besar 25 orang (78,12%), yang memiliki percaya diri tinggi 27

orang (84,38%), yang tegar atau tidak mudah putus asa 26 orang (81,25%),

dan seluruhnya (100%) bersifat ekstrovet (terbuka). Dengan demikian dari 32

pelaku usaha wanita yang dinilai belum seluruhnya memiliki kompetensi yang

seharusnya dimiliki seorang pelaku usaha atau wirausaha yaitu masih ada

yang tidak berani mengambil resiko, tidak kreatif, tidak proaktif menghadapi

perubahan, tidak berjiwa besar, kurang percaya diri, dan tidak tegar atau mudah

putus asa.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

1. Dalam kegiatan UKM, wanita berperan sebagai pelaku usaha atau

sebagai pemilik, sebagai manager ataupun tenaga kerja. Dalam kegiatan

koperasi, wanita dapat berperan sebagai anggota, pengurus, pengawas,

manager, pembina ataupun pendamping usaha. Peran serta wanita dalam

berbagai sektor, namun sesuai dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki

wanita seperti tekun, teliti, ulet, sabar, jujur, tangguh, rasa tanggung jawab

tinggi, kemauan keras, semangat tinggi, disiplin, maka kebanyakan

wanita berhasil dalam bidang keuangan, kerajinan, industri pengolahan,

hal ini juga ditunjukkan dari hasil penelitian ini yang mana hampir seluruh

koperasi dengan kegiatan usaha pokoknya simpan pinjam cukup berhasil.

Sedang sebagai pengusaha kecil wanita banyak bergerak dalam usaha

pertokoan, industri makanan dan minuman, konveksi/garmen, salon/rias

pengantin sekaligus memproduksi assesorisnya, kerajinan dari lontar,

kaca, keramik dan sebagainya.

2. Koperasi contoh yang dikelola wanita, dapat diketegorikan koperasi kecil,

sedang, besar dan sangat besar dilihat dari kelembagaan khususnya

jumlah anggota dan tenaga kerjanya, maupun kinerja usahanya dan hampir

semuanya berjalan cukup baik. Dari penelitian ini terdapat Koperasi Wanita

yang cukup menonjol dan dikategorikan sangat besar yaitu K1 Sulsel

dengan anggota lebih 1000 orang, K1 Jatim dengan anggota lebih 6000

orang dan K2 Jatim dengan anggota lebih 9000 orang. Ketiga koperasi

ini juga memiliki kinerja usaha seperti modal sendiri, modal luar, volume

usaha, sisa hasil usaha cukup besar dengan perkembangan cukup baik

pula. Ketiga Koperasi tersebut memiliki omset atau volume usaha per

tahun cukup tinggi yaitu K2 Jatim (Rp 35,41 M), K1 Jatim (Rp 6,5 M),

dan K1 Sulsel (Rp 2,6 M), yang mana VU ini akan memberikan multifier

effect pada usaha mikro dan kecil di wilayahnya karena kebanyakan

VUnya berupa pinjaman modal kerja pada UKM. Adapun koperasi dengan

JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I – 2006

149

kategori kecil, sedang dan besar, meskipun nilai nominal usahanya tidak

terlalu besar namun memiliki perkembangan baik selama dua tahun

terakhir, seperti K1 Jawa Barat, K2 Kalimantan Barat, dan K1 Sumatera

Barat. Kinerja usaha kecil sampel cukup baik pula, dilihat dari modal

swadaya, omset, dan margin yang dicapai yaitu rata-rata lebih dari 25

%, meskipun dalam hal penyerapan tenaga kerjanya masih relatif kecil.

Dengan demikian dapat dikatakan wanita memiliki kompetensi cukup

baik dalam pengembangan UKMK. Dengan syarat benar-benar

mencurahkan cukup waktu dan pikirannya dalam kegiatan tersebut.

3, Dilihat dari kelebihannya, wanita pelaku usaha memiliki berbagai kelebihan

seperti ulet (54,4%), tanggung jawab( 34,38 %), teliti dan rasa tanggung

jawab masing-masing 34,38 %, tekun, sabar dan jujur masing-masing

21,88 %, kreatif dan ingin maju masing-masing 18,75% dari jumlah

sampel, merupakan faktor dominan penyebab wanita berhasil sebagai

pelaku usaha, dan sebaliknya memilki kelemahan antara lain karena

kurang dukungan keluarga ( 37,5 % dari jumlah sampel), kurang dukungan

lingkungan dan pemerintah setempat (28,12% dari jumlah sampel), peran

ganda (21,88 %), kurang berani mengambil resiko dan bersifat konsumtif

masing-masing 15,62 %, kurang profesional (12,5% dari jumlah sampel )

merupakan faktor penyebab wanita gagal sebagai pelaku usaha.

4. Koperasi/UKM sampel masih menghadapi permasalahan-permasalahan

dalam mengembangkan usahanya, seperti kurang modal, lemahnya SDM,

kurang menguasai teknologi/pasar memperngaruhi kinerja usaha,

sehingga permasalahan-permasalahan tersebut perlu dicarikan pemecahan

secara terpadu.

5, Hampir seluruh responden wanita pelaku usaha menyatakan ingin

menciptakan lapangan usaha/mengurangi penggangguran sebagai

motivasi mengapa berkiprah dalam dunia usaha (96,88 % dari jumlah

sampel), hal ini menunjukkan adanya kesadaran wanita untuk ikut serta

mengatasi kondisi kritis yang dihadapi bangsa Indonesia khususnya

dengan semakin meningkatnya penggangguran.

5.2 Saran

1. Untuk mengatasi permasalahan dalam sulitnya akses pada sumbersumber

permodalan, pemerintah diharapkan dapat memberikan

kemudahan pada koperasi/UKM memperoleh fasilitas kredit, konsep Modal

Awal Padanan (MAP) yang dirintis BPSKPKM yang mudah diakses

koperasi/UKM mungkin implementasinya dapat diperluas.

2. Guna meningkatkan kompetensi pelaku usaha dalam rangka

meningkatkan usahanya perlu dilakukan peningkatan pengetahuan,

ketrampilan dari pelaku usaha koperasi/UKM baik berupa diklat, kursus,

magang, studi banding, ataupun perbandingan usaha, yang mana

materinya sesuai dengan kebutuhan dan kegiatan usahanya.

3. Adanya kebutuhan pembinaan manajerial, pelayanan bisnis lainnya untuk

memudahkan akses pada sumber permodalan, kerjasama dengan sumber

bahan baku, informasi pasar, untuk itu implementasi LPB ( Lembaga

Pelayanan Bisnis) ataupun pendampingan bisnis implementasinya

hendaknya diperluas untuk pelaku usaha wanita.

JURNAL PENGKAJIAN KOPERASI DAN UKM NOMOR 1 TAHUN I – 2006

151

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Laporan Akhir Penelitian Peranan Wanita Dalam Pengembangan

Koperasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Koperasi,

Departemen Koperasi, 1991-1992;

Hesti, R.Wd. Penelitian Perspektif Gender dalam Analisis Gender Dalam

Memahami Persoalan Perempuan, Jurnal Analisis Sosial Edisi IV

Nopember 1996;

Hetifah, S. dkk, Strategi dan Agenda Pengembangan Usaha Kecil, Seri

Penelitian AKATIGA, Yayasan AKATIGA 1995;

Masykur Wiratmo, Pengantar Kewiraswastaan Kerangka Dasar

Memasuki Dunia Bisnis, BPFE . UGM Yogyakarta, edisi Pertama;

Porter Michael E, .Competitive Advantage., The Free Press, 1985;

Siagian Salim dan Asfahani, Kewirausahaan Indonesia dengan Semangat

17-8-1945, Puslatkop. PK Depkop dan Pembinaan Pengusaha Kecil,

Jakarta;

Sumampaw, S.A. dkk, Ada Bersama Tradisi Seri Usaha Mikro Kecil,

Swisscontact dan Limpad, 2000.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: